HOME

PROFILE

PERIZINAN

MEKANISME

PENANAMAN MODAL

DOWNLOAD

KONTAK KAMI

Dipermudah, Masih Pakai Calo

Lombok Post, Senin 30 Mei 2016

Saat ini perizinan di Kota Mataram sudah dipermudah. Sejumlah program ditelurkan. Mulai dari program perizinan Sehari Pasti Jadi (Sehati), perizinan online dan lainnya. Namun, pengusaha seolah enggan memanfaatkan kemudahan tersebut. Ada apa?

***
CALO masih jadi momok di Kota Mataram. Terutama ketika mengurus izin usaha.  Tak hanya momok, praktik calo bahkan sudah menjurus ke arah penipuan.

Seperti peristiwa pada hari Rabu, 25 Mei 2016 kemarin, seorang pria atas nama Hairil Anam, diciduk tim gabungan dari BPMP2T dan Satpol PP Kota Mataram. Ia diduga melakukan pemalsuan dokumen perizinan.

Di tengah gencarnya Pemerintah Kota Mataram mengampanyekan tentang perizinan yang mudah dan cepat seperti layanan SEHATI (Sehari Pasti Jadi), justru tak kurang 18 perusahaan tertipu, mentah-mentah. Di antaranya, Usaha Catering Budi dan Toko Ponsel Michael.

Topan, salah satu keluarga dari pemilik Catering Budi, mengaku bisa tertipu oleh HA, karena pria yang mengaku berasal dari Duman, Lombok Barat itu, sudah jadi kepercayaan keluarganya.

“Dia memang sudah kami percayai sampai turun-temurun,” tutur Topan.

Tapi kepercayaan keluarga Topan, dikhianati HA. Pada awalnya, dia memang rajin memenuhi permintaan konsumennya untuk melayani perizinan di Kota Mataram. Ia layaknya biro jasa yang lain, mengurus izin ke pemkot dan mendapat upah dari jasa pengurusan itu.

“Saya mulai heran, saat melihat dia sendiri yang tanda tangan, sejumlah berkas perizinan,”ulas Topan.

Bahkan, si pelaku boleh dibilang ketinggalan informasi. Pasalnya, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, telah memberi kewenangan pada Kepala BPMP2T untuk menandatangani semua berkas.

Lucunya lagi, pelaku juga salah menulis nama Kepala BPMP2T dengan mana orang lain, yang entah siapa itu.

“Iya karena itu akhirnya pihak BPMP2T yang memerika izin-izin bilang, kalau izin saya palsu,” ungkapnya.

Dalam hal menduplikasi tanda tangan, kemampuan pelaku memang patut diacungi jempol dan bernyali. Tanda tangan milik Kepala BPMP2T, Diskoperindag hingga sekelas wali kota Mataram, bisa ditirunya.

Para pemilik perusahaan memang kerap menggunakan jasa calo. Ayeng, mantan pegawai di salah satu perusahaan finance di Kota Mataram, menuturkan alasan pengusaha memilih bantuan biro jasa, hanya karena persoalan waktu. Dulu, sebelum ada program SEHATI, urus izin di kota Mataram, terhitung, lama. Bisa sampai enam hari.

Tak hanya itu, pengurusan yang mengharuskan owner (pemilik) atau pemberian surat kuasa, menjadi alasan yang membuat tahapan dinilai pajang. Terutama bagi, usaha yang berstatus cabang.

“Kalau sudah di biro jasa, mereka biasanya cepat mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Intinya pengusaha terima beres, disamping janji pengurusan izin bisa cepat selesai,” tuturnya.

Atas dasar inilah, persepsi urus izin usaha di Kota Mataram, oleh sebagian pengusaha dinilai sulit. Jalan pintaspun diambil dengan meminta bantuan biro jasa. Belum lagi, ketakutan-ketakutan dipalaki oknum petugas.

Kalaupun ada program yang diyakini mudah dan cepat seperti saat ini, tanpa sosialiasi yang gencar dan masif, pengusaha bisa saja tetap berpersepsi, layanan di pemerintahan masih belum bagus.

Sekretaris BPMP2T Kota Mataram Bambang Juni Wartono mengaku sudah berupaya maksimal memberi informasi pada para pengusaha tentang mudahnya perizinan di Kota Mataram. bahkan tak hanya perizinan manual, pemkot juga telah menggeber pelayanan berbasis online.

“Kita juga jaring pengurusan izin berbasis online, bahkan sudah ratusan yang terdaftar,” ulasnya.

Namun, ini ia pastikan menjadi pelajaran penting bagi pemerintah. Untuk memperkecil lagi celah penipuan data dan izin. “Nanti kita sebarkan juga ke para pengusaha himbauan, agar tidak menggunakan calo,” tandas Bambang.

BPMP2T boleh saja mengaku sudah maksimal menginformasikan kemudahan mengurus perizinan. Kenyataannya masih banyak pengusaha tidak memanfaatkan kemudahan tersebut secara maksimal. Buktinya, di antara mereka ternyata masih ada yang menggunakan jasa calo.

Padahal masalah perizinan ini berimbas pada tata kota dan dunia usaha di Kota Mataram. Saat ini pelanggaran terhadap tata ruang nyata terjadi di depan mata. Teguran-demi teguran maupun peringatan sudah dilayangkan pemkot. Sayangnya, pegusaha seolah enggan menggubrisnya.

Beberapa pengusaha tetap nekat melakukan pelanggaran. Bangun dulu baru urus izin, seolah menjadi jargon sejumlah pengusaha nakal.

Hal ini membuat beberapa pengusaha lokal gerah dengan sikap pemerintah. Pelanggaran yang terus menerus dibiarkan tanpa ada penindakan dikhawatirkan akan merusak citra positif para pengusaha.

Akademisi IAIN Mataram dr. Kadri berharap selain kemudahan perizinan, ada tindakan tegas terhadap pelaku pelanggaran.

Dewan diminta tegas untuk menekan eksekutif mengambil langkah terhadap pelanggaran yang terjadi di Kota Mataram.

“Mengkritisi kebijakan eksekutif bukan berarti membuka aib pemerintah. Tapi ini justru membangun kinerja pemerintah karena tupoksi dewan itu memang harus seperti itu,” jelas Kadri.

Ia juga menolak menyalahkan pengusaha sepenuhnya atas banyaknya pelanggaran yang terjadi. Karena proses terjadinya pelanggaran juga harus dilihat.Mulai dari izinnya, peneguran, hingga punishment yang diberikan terhadap pelanggaran selama ini.

“Justru banyak pelanggaran yang terjadi saat ini menurut saya sebagai momentum pemkot untuk melakukan evaluasi besar-besaran,” ungkapnya. (cr-zad/ton/r4)

 

Sumber: Lombok Post, Senin 30 Mei 2016

Link: http://www.lombokpost.net/2016/05/30/dipermudah-masih-pakai-calo/

Share Link :